Merubah Paradigma Job Security Menjadi Career Security
Jika didalam dunia usaha kita sering mendengar istilah wiraswasta dan wirausaha, maka dalam dunia kerja mungkin rekan-rekan sudah familier dengan istilah Job security dan career security. Ada kesamaan menurut penulis diantara kedua istilah dunia usaha dan dunia kerja tersebut, menjadi seorang wiraswasta atau job security lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu adanya dorongan dari luar diri (interpersonal) yang mendukung seseorang menjadi wiraswasta atau menjadi seorang job security sementara wirausaha atau career security sangat didorong oleh faktor internal dalam diri (intrapersonal) dengan mengutamakan potensi diri dan daya juang dalam mewujudkannya menjadi seorang wirausaha atau career security.
Dari penuturan diatas, tentu rekan-rekan hampir setuju bahwa menjadi seorang karyawan yang berfokus pada persiapan dan pengembangan karir akan lebih sukses dalam mencapai karir gemilang jika dibandingkan dengan karyawan yang hanya berfokus pada sebatas mengamankan pekerjaan, jabatan dari persaingan yang sangat kompetitif didalam internal perusahaan. Namun pada kenyataannya tanpa kita sadari hampir semua dari kita (maaf mungkin anda tidak) dalam keseharian kita bekerja selalu dihabiskan hanya untuk bagaimana supaya pekerjaan yang ditugaskan pimpinan kepada kita dapat dijalankan dengan baik penuh kerja keras, loyalitas dan dedikasi. Sepintas memang benar bahwa dalam menunaikan tugas pekerjaan tentunya kerja keras, loyalitas dan dedikasi adalah kata kuncinya namun apakah dewasa ini ditengah persaingan yang super ketat ditambah arus globalisasi yang semakin tak terbatas ketiga unsur diatas cukup untuk membuat karir anda cemerlang atau mungkin akan mampu mempertahankan eksistensi perusahaan anda ?.
Ada beberapa keuntungan dari karyawan yang befokus pada job security, yach itu dia salah satunya akan tetap menjadi “kuncen/penghuni” perusahaan tanpa peduli apapun posisi dan jabatannya. Namun jika dilihat dari perkembangan karir maka amat sangat merugi jika seseorang sudah berpuluh-puluh tahun bekerja hanya berkutat pada pekerjaan dan jabatan itu-itu saja, tentunya kurang baik untuk masa depan diri dan keluarganya. Lain halnya dengan karyawan yang berfokus pada career security, mereka selalu mempunyai pola pikir kedepan (visioner), bekerja keras tidak hanya sekedar untuk memperlihatkan kesetiaan dan pengabdian terhadap pimpinan namun lebih kepada berfikir kritis dan bertindak cerdas dalam membangun dan meningkatkan kinerja perusahaan yang pada akhirnya reward akan kita dapatkan terutama dalam bentuk pengembangan karir.
Ada beberapa perbedaan menurut penulis antara karyawan yang menganut paham job security dengan karyawan yang berpaham career security, diantaranya :
No |
Job Security |
Career Security |
1. |
Berfokus pada Loyalitas dan Dedikasi (setia dan mengabdi) |
Lebih dari itu, Kreatifitas dan Inovasi sangat diperlukan |
2. |
Kerja Keras sesuai Job (sebatas Jobdes) |
Kerja Cerdas Melebihi Job (berani mengambil resiko (positif)) |
3. |
Perkembangan karir ditentukan oleh syarat administratif yaitu lama kerja dan strata pendidikan |
Kreatifitas sebagai kunci dalam perkembangan karir |
4. |
Bekerja atas dasar perintah dan tanggung jawab pekerjaan (wait and see) |
Bekerja atas dasar kebutuhan dan dorongan jiwa (career and motivation) |
5. |
Tunduk dan patuh pada atasan/pimpinan (personil) |
Tunduk dan patuh pada institusi (aturan organisasi) |
6. |
sibuk mewujudkan target-target perusahaan (terbebani) |
Sibuk memikirkan konsep dan gagasan baru (tertantang) |
7. |
people of action |
people of thought |
8. |
The job mental attitude |
The enterprising mental attitude |
9. |
Low bargain |
High bargain |
10. |
Comfort zone |
Challange zone |
12. |
Job Skill (IQ) |
Software Skill (EQ) |



Kenapa kita tidak merubah paradigmanya menjadi lebih extreem lagi. Kalau saya akan membuat “Merubah paradigma dari Worker menjadi Owner”. Kenapa?…Sudah saatnya kita sebagai anak bangsa menjadi tuan rumah dan penguasa dinegeri sendiri. Kenapa dalam perjalanan pendidikan kita, siswa maupun mahasiswa selalu berpikir “Jika lulus nanti aku akan bekerja di PT. ABC”, atau “Jika aku lulus nanti, aku akan bekerja dimana ya?’….Bukannya “Jika lulus nanti aku akan membuka lapangan kerja bagi orang banyak”, atau “Jika aku lulus nanti, usaha apa yang baiknya aku jalankan”.
Situasi kondisi saat ini dimana angka pengangguran dan pemutusan hubungan kerja begitu banyak, sudah saatnya ditanamkan “kemauan, kemampuan, dan keyakinan” pada adik-adik kita untuk bisa “menciptakan” sesuatu yang berguna untuk kepentingan orang banyak misalnya dengan membuka lapangan kerja bagi orang banyak.
Oleh: Yudhi Permana on Desember 17, 2008
at 8:11 am