Oleh: Heri Kuswara | September 8, 2008

Be a Smart Worker

Be a Smart Worker

Heri Kuswara

 

Tanggal 23 Februari 2008, Kami (Heri Kuswara & M.Islahuddin) dan Bapak Suparman (Kajur MA-ASM BSI) diundang dalam acara launching dan bedah buku terbarunya Dr Eddy Iskandar, PhD (Nara Sumber BSI) & Tiana S Wijono berjudul “Xsistensi, Xperiensi, Xpertis (Be a Smart Worker”). Bapak Suparman sebagai tamu kehormatan duduk di sopa terdepan,  sementara Kami duduk di meja bundar dengan beberapa tamu dan peserta lainnya. Singkat acara sampailah pada sesi tanya jawab, terdorong rasa keingintahuan lebih jauh tentang Be a smart worker, Kamipun turut aktif bertanya mengenai berbagai hal yang berhubungan dengan be a smart worker baik kepada keynote speakernya yang kebetulan menghadirkan Prof Dr.H.Bambang Marsono,MA,MSc,PhD maupun kepada Dr Eddy. Dari jawaban, tanggapan yang dilontarkan beliau berdua, kami semakin menyadari  tentang pentingnya Be a smart worker di institusi manapun kita berada. Dan tentunya kamipun mendapatkan reward dari panitia berupa buku-buku karya beliau berdua. Alhamdulillah existence kami hadir di acara itu membuahkan expereince  sebagai modal kami berkiprah di institusi ini.

 

Terdapat banyak teori yang menjelaskan tentang smart worker, berikut beberapa teori kami sampaikan dalam artikel singkat ini.  Menurut. Mondy dan Premeaux (1993:19) oleh Bambang Marsono smart worker adalah mampu bekerjasama dengan pekerja lain dan yang lebih penting lagi dengan atasannya”. Fleet (1988{23-24) oleh Bambang Marsono menyatakan seorang smart worker adalah mampu bekerja lebih efisien dan efektif. Efisien adalah karyawan yang mampu melaksanakan pekerjaan melalui kemampuannya dalam menghemat biaya, tenaga, maupun sumber daya lainnya yang tersedia. Sementara efektif adalah kemampuan melaksanakan pekerjaan dengan cara dan hitungan waktu yang tepat. Mc Tague (1989 :7-8) oleh Bambang Marsono menyatakan, sebagian besar produktivitas perusahaan dapat dicapai jika terdapat kerjasama yang jitu antara manajer dan karyawannya. Empat per lima dari sukses perusahaan sangat ditentukan oleh karyawan. Philip C. Schechty (1997-38) menyatakan  sebuah organisasi harus tetap memiliki mereka yang  berkemampuan kompetitif, sehingga produktivitas secara fisik maupun mental  tercapai. Secara Satirik ia menyatakan kalau ada perusahaan yang memiliki karyawan yang tak mau memperbaiki diri alias tidak smart,  sebaiknya mereka pindah ke tengah laut atau mati saja.  

 

Ada satu teori yang membuat kami tertarik untuk menguraikannya lebih jauh, yaitu teorinya Eddy Iskandar (2008 : 24) menyatakan  seorang pekerja cerdas adalah mereka yang mempunyai Integritas, Kompetensi dan Loyalitas.

 

1.      Integritas.  Integritas menurut kami seseorang yang memiliki attitude baik,  jujur dan Disiplin. Contoh yang paling sederhana untuk melihat seseorang ber-attitude baik atau tidak adalah ketika siapapun dilingkungan kerja kita yang menegur duluan tanpa pandang bulu. Dapatkah kita menegur duluan? meskipun mungkin orang yang kita tegur lebih rendah jabatannya, yunior kita, atau apapun statusnya, seberapa sering kita menyapa  Pramubakti, Cleaning Service yang setiap hari tanpa kata tidak membantu kita dalam menjalankan tugas institusi ini. Terbiasakah kita sekedar say hallo  kepada Satpam yang dengan disiplin militernya mampu menjaga dengan aman kendaraan kita dari pagi sampai malam tanpa lelah dan mengeluh. Tegurlah mereka dengan  kehangatan, keramahan, senyuman dan hadirkan rasa persaudaraan, persahabatan dalam hatinya. Dengan begitu suasana saling menghormati dan menghargai akan tercipta dalam lingkungan kerja yang kondusif. Jujur itu mudah sepertinya, namun sangat sulit mempraktekannya terutama dalam lingkungan kerja. Kadang untuk menutupi kekurangan, kesalahan terpaksa kita harus berbohong, tak ada satu dalilpun yang membolehkan kebohongan. Mulialah jujur dengan hal-hal yang kecil, baik jujur tentang diri maupun jujur tentang pekerjaan. Seseorang yang jujur baik dalam berucap maupun dalam berbuat akan senantiasa mendapatkan banyak kepercayaan terutama dari atasannya. Kemudian Integritas itu disiplin, disiplin bukan hanya sekedar tepat waktu namun disiplin dalam mentaati seluruh peraturan yang berlaku di perusahaan. Itulah terkadang peraturan yang ada sering kita langgar, padahal adanya peraturan itu bukan untuk dilanggar tapi untuk mendisiplinkan kita dalam beraktifitas.

2.       Kompetensi. Kompetensi adalah kemampuan yang dimiliki seseorang. Seorang smart worker tidak sekedar pintar dari sisi ilmu, pengetahuan  dan keterampilan saja ((Thereshold Competency) namun harus mempunyai keunggulan  (Differentiating Competencies) dalam mengimplementasikannya. Contoh seorang dosen tidak cukup beretorika di depan mahasiswa dengan teori yang dikuasasi namun lebih dari itu harus mampu mentransformasikan ilmunya menjadi dimengerti oleh mahasiswa, mampu mencurahkan keilmuannya dalam bentuk penelitian untuk menghasilkan karya ilmiah dan mampu mengabdikan ilmu pengetahuan, hasil karyanya untuk kemajuan bangsa. Itulah salah satu contoh seorang smart worker.

 

3.       Loyalitas. Loyalitas tidak sekedar setia, taat, patuh dan menghabiskan waktu untuk perusahaan. Makna dari loyalitas dalam kamus Oxford Thesaurus adalah : (1) Percaya dan bisa dipercaya. Misalnya percaya atas tugas yang diembannya akan berhasil dan dapat dipercaya oleh institusi  dalam mengemban  tugas dan tanggung jawab tersebut. (2) Konsisten dan stabil. Misalnya ketika kita  mendapatkan sanksi atau teguran, merasa dianaktirikan oleh pimpinan, dijauhi oleh rekan kerja dll, orang yang mempunyai loyalitas tinggi tetap akan bekerja dengan semangat tinggi, memperlihatkan kinerja yang baik, tidak mengeluh, tidak mengumpat dan tetap stabil bekerja dalam berbagai kondisi. (3) Dedikasi. Mempunyai pengertian yang sangat mulia yaitu proses pengabdian yang sangat tulus dari seorang karyawan dengan segenap kemampuan dan energi yang dimiliki tanpa melihat seberapa besar reward  yang diberikan perusahaan kepada kita. Orang yang mempunyai dedikasi tidak akan pernah menghitung  kontribusi yang telah diberkan kepada perusahaan. (4) Patriotik. Jiwa patriotik tidak sekedar mempunyai rasa memiliki atau kepedulian yang tinggi terhadap perusahaan namun lebih dari itu seorang karyawan yang mempunyai jiwa patriotik akan selalu menjadi garda terdepan dalam mempertahankan dan memajukan keberlanjutan perusahaan. Membela hak-hak perusahaan dan menjadi bagian.

 

Dewasa ini, menjadi smart worker adalah sebuah keharusan yang tak terelakan. Seseorang akan tetap bertahan dan meraih karir terbaik jika mampu mempunyai integritas, kompetensi dan loyalitas yang tinggi terhadap perusahaan. Denis Waitley seorang pakar motivasi dan penulis buku-buku self help mengatakan : ”Yesterday seniority signified status. Today creativity drives process”.  Jelaslah bahwa kesuksesan karir seseorang tidak lagi ditentukan oleh lamanya dia bekerja (sudah senior)  namun sangat ditentukan oleh kreatifitas yang merupakan proses untuk meraih sukses.Sumber Bacaan

Iskandar Eddy dan S Wijono Tiana. 2008. Xsistensi, Xperiensi, Xpertis (Be a Smart Worker). Jakarta:Central Productivity & Management PRESS.

 

Iklan

Responses

  1. artikelnya oke… namun pada prinsipnya teori tentang smart worker yang banyak ditulis oleh banyak pakar (management)-sejatinya hanya cenderung berada diwilayah das solen-padahal esensi karir (baca : carrer path) seseorang cenderung masih sangat kuat di pengaruhi oleh das sein kebijakan yang berakar kuat pada psikological decicion of moment yang domain aplikasinya masih didominasi oleh like or dislike because personality factor. khususnya di almater/lembaga anda mudah2an artikel anda menjadi concern…

  2. Terima kasih Kang Andi atas komentarnya. Kang andi menurut hemat saya sejatinya kata ideal itu hanya ada pada kamus “pewayangan” saja, idealnya das sein adalah implementasi dari das solen apapun itu termasuk menjadi seorang smart worker, namun demikian berusaha sekuat tenaga dan semaksimal mungkin untuk mengimplementasikan das solen adalah kewajiban siapapun kapanpun dan dimanapun umat manusia berada. jdi yang terpenting adalah usaha untuk menyelaraskan/mensinergikan/membuat terlihat “ideal” antara das solen dengan das sein. Selanjutnya mengenai komentar kang andi tentang implementasismart worker diinstitusi kerja saya dan kang andipun tergabung didalamnya, saya sangat menghormati Perspektif kang andi, karena mungkin kang andi punya cara pandang yang berbeda tentang itu. namun bukankah like dislike and personality factor adalah adalah hal terpenting dalam personalitiy Skill/Human Skill. Yang menjadi pertanyaan kenapa menjadi dislike ? jelas relasinya erat dengan intra/interpersonal skill. lebih jauh tentunya berkenaan dengan kredibilitas sebagai modal dasar seseorang bukan hanya kapabelitasnya dalam berbagai bidang. Demikian mudah2an nyambung Kang Andi yaach. Trimsss

  3. menurut Rhenald Kasali (2002), pskilogical decicion of moment adalah keputusan yang cenderung menegasikan faktor kredibilitas barkaitan dengan persoalan intra-interpersonal skill. ia berlandaskan pada atribusi psikologi komunikasi yang dilakukan oleh pengambil kebijakan dalam mengintuisi perspektif kinerja dan kontribusi. Namun demikian kedua-duanya (baca : persoalan intra-inter personal skill dan psicological decicion of moment) tadi tetap indikator penting dalam menilai dan mengedifikasi karyawan. mungkin itu benang merahnya.

  4. Wah, pusing euy baca teori-teori kayak beginian. Kayaknya yang beginian cuma cucok untuk debat para dosen (SMART PEOPLE) aja kali yah.

    Menurut saya sih, SMART WORKER adalah yang pandai mengambil keputusan dan tau kapan harus segera mengeksekusi keputusan tersebut, termasuk apakah harus bertahan atau tidak bukan hanya mengeluh dan berteori. Sebab banyak para pekerja yang tahu bahwa dia tidak akan dapat berkembang karirnya hanya karena kata “like” dan “dislike” toh tetap bertahan ditempat (mungkin ini model DUMB WORKER yah?).

    Hehehe. Maaf kalau tidak nyambung karena gak paham yang kayak beginian… Maklum saya cuma seorang karyawan kebanyakan… Hiks…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: